Maumere, NTT – Kepedulian dan perhatian terhadap masyarakat terdampak bencana alam terus ditunjukkan Korem 162/Wira Bhakti. Melalui Tim Trauma Healing, prajurit Korem 162/Wira Bhakti memberikan pendampingan psikologis sekaligus menghadirkan suasana ceria bagi anak-anak, ibu-ibu, dan masyarakat yang berada di lokasi pengungsian di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (25/8/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan di dua wilayah, yakni wilayah Kodim 1603/Sikka di Maumere dan wilayah Kodim 1602/Ende.

Di wilayah Kodim 1603/Sikka, Tim 1 Trauma Healing terdiri dari Kapten Ckm Suwandi, Serka Joni Vensensius dan Sertu Imam Mahdin. Sementara itu, Tim 2 yang melaksanakan kegiatan di wilayah Kodim 1602/Ende terdiri dari Serka Sabarudin, Serka Muliadi Aziz, Sertu Safarius Kadja dan Pratu Angga.

Berbagai kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan yang sederhana, humanis dan penuh keakraban. Tim Trauma Healing mengajak anak-anak dan ibu-ibu mengikuti senam bersama, dilanjutkan dengan bernyanyi dan bermain bersama. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk membangun kembali semangat serta memberikan ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi dan menikmati suasana yang menyenangkan di tengah kondisi pascabencana.

Tidak hanya memberikan pendampingan psikologis, para prajurit juga turut membantu Dinas Sosial dalam memberikan pelayanan makanan kepada masyarakat yang mengungsi. Kepada para ibu-ibu, Tim Trauma Healing memberikan motivasi dan penguatan agar tetap tabah, sabar serta memiliki semangat untuk menghadapi situasi yang sedang dialami.

Keceriaan anak-anak semakin terlihat saat mereka diajak bermain berbagai permainan tradisional, termasuk permainan jungkelak, bermain bola, bernyanyi dan melakukan berbagai aktivitas bersama. Kehadiran prajurit di tengah anak-anak diharapkan dapat membantu mengurangi rasa takut dan trauma sekaligus mengembalikan keceriaan mereka.

Di wilayah Kodim 1602/Ende, Tim Trauma Healing juga memberikan motivasi dan penyuluhan kesehatan kepada warga desa yang terdampak bencana, yang dalam pelaksanaannya turut didampingi oleh Ibu Dandim 1602/Ende.

Selain pendampingan dan kegiatan hiburan, kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat juga diwujudkan melalui pembagian sembako dan snack kepada warga terdampak. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan foto bersama sebagai bentuk kebersamaan antara prajurit TNI dan masyarakat.

Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen TNI Moch. Sjasul Arief, S.Sos., menyampaikan bahwa kehadiran Tim Trauma Healing merupakan wujud nyata kepedulian TNI terhadap masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit akibat bencana.
“Dalam kondisi bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan berupa kebutuhan pokok, tetapi juga membutuhkan dukungan moril, perhatian dan semangat. Karena itu, prajurit harus hadir memberikan rasa aman, menemani dan membantu masyarakat agar mampu bangkit dari kondisi yang mereka hadapi,” ujar Danrem.

Beliau menekankan bahwa anak-anak menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan Trauma Healing karena pengalaman bencana dapat memberikan dampak psikologis yang mendalam. “Kami ingin anak-anak kembali tersenyum dan merasakan keceriaan. Melalui kegiatan bermain, bernyanyi, berolahraga dan berinteraksi bersama, kami berharap rasa takut dan trauma mereka dapat berkurang. Yang terpenting, mereka mengetahui bahwa ada yang peduli dan hadir bersama mereka,” ungkap Brigjen TNI Moch. Sjasul Arief, S.Sos.

Lebih lanjut, Danrem menegaskan bahwa Korem 162/Wira Bhakti akan terus berupaya memberikan kontribusi terbaik dalam membantu masyarakat terdampak bencana, baik melalui bantuan kemanusiaan maupun pendampingan secara langsung.
“TNI adalah bagian dari rakyat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, di situlah prajurit harus hadir. Kami akan terus memberikan dukungan sesuai kemampuan yang ada, sehingga masyarakat dapat melalui masa sulit ini dengan lebih kuat dan penuh harapan,” tegasnya.

Kegiatan Trauma Healing Korem 162/Wira Bhakti berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan. Senyum, tawa dan keceriaan anak-anak menjadi gambaran bahwa di tengah kondisi sulit sekalipun, harapan untuk bangkit selalu ada ketika masyarakat saling menguatkan dan hadir bersama.

Penrem162.